Masjid Saninten


15 Nov 2019, 09:44 Administrator Dibaca : 2,724


Pada Tahun 1950 di lingkungan Saninten dan sekitarnya belum ada sebuah masjid yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk sholat Jum’at dan ibadah sholat berjama’ah 5 waktu sehari-hari. Maka atas inisiatif Haji Ujam seorang putra betawi didirikanlah Masjid Saninten dengna fasilitas seadanya yang berlokasi di jalan Saninten nomor 1-3 (bekas kantor Polisi Pemerintah Kolonial Belanda, sekarang dipakai untuk TPA dan TK Al Lathiif).

Pada tahun 1956 Pelda (Veteran RI) Agoes Salim Joenoes seorang putra Minang, veteran pejuang pelaku “Bandung Lautan Api” kamudian mewakafkan rumahnya di jalan Kihiur nomor 2 yang digunakan untuk kepentingan Masjid Saninten dengan imam masjid Bapak Ustadz Eman Soelaeman. Pada tahun 1957 mulailah dibentuk kepengurusan Masjid Saninten dilengkapi dengan Madrasah anak-anak & remaja.

Tujuh tahun kemudian tepatnya tahun 1964 karena kapasitas masjid sudah tidak mampu lagi menampung jamaah terutama ketika jum’atan muncul ide dari pengurus Masjid Saninten dan para tokoh Muslim di lingkungan Saninten untuk membangun masjid baru di lapang/taman Saninten (sekarang lokasi Masjid Al Lathiif). Pada tahun 1966 pembangunan gedung inti masjid baru selesai dan melalui rapat panitia pembangunan diberi nama Al Lathiif, diambil dari salah satu nama Asmaul Husna yang berarti “Maha Lembut” atau “Maha Halus” dengan maksud agar dakwah/syi’ar Islam dari masjid ini kepada umat dilakukan dengan lemah lembut sehingga masjid memiliki daya Tarik tersendiri.

Untuk pengembangan syi’ar Islam dikalangan pemuda maka dibentuklah pada tanggal 17 Agustus 1975 “Students Islamic Study Club” yang diketuai oleh dr. Sjamsuddin Manaf kegiatan kepemudaan dilakukan setiap minggu pagi jam 07:00-11:00 WIB bertempat di ruang Akadmei Bank Merdeka jalan Saninten nomor 1 (sekarang Ruang TPA Al Lathiif).

Pada tahun 2000 setelah Kol (Purn) HM Djamil Rasyad meninggal dunia yang saat itu menjadi DKM Al Lathiif terjadi kevacuman maka atas inisiatif Drs. H. Dadang Surjadi dan bawah bimbingan Ustadz Fuad Muttaqin menjajaki kemungkinan pengambil alihan Masjid Al Lathiif, sejalan dengan tuntutan kegiatan pembangunan dan dakwah Masjid restrukturisasi kepengurusan Majelis Al Lathiif dengan ketua dr. H. Bambang Hernova, Sp.A., pembangunan fiisk Masjid Al Lathiif meningkat pesat atas dukungan infaq dan shodaqoh jamaah dari berbagai tempat, sejak tahun 2013 dibawah kepemimpinan Ir. H. Iman N Djatiatmadja, IAI. Pada periode kepengurusan DKM Al Lathiif ini pula kegiatan dakwah islam semakin makmur terutama setelah ustadz Hanan Attaki, Lc. turut mengisi kegiatan dakwah. Awalnya Ustadz Hanan Attaki, Lc. hadir untuk memberikan tausyiah atas meninggalnya Bapak Agoes Salim Joenoes. Kemudian majelis tertarik atas cara penyajian tausiyah/dakwah Ustadz Hanan yang lembut sesuai dengan sifat Allah Yang Maha Lembut (Lathiif).

Ustadz Hanan pun sering tampil di Masjid Al Lathiif dalam perkembangan dakwahnya kebanyakan yang menjadi jamaah adalaha para pemuda dan dibentuklah gerakan dengan nama “Pemuda Hijrah” atau nama kerennya “Shift”. Salah satu keunikan Masjid Al Lathiif ialah masjid buka 24 jam sehingga kapanpun jamaah yang dating dapat menikmati beribadah di masjid ini, disamping DKM Al Lathiif mempercayakan sepenuhnya kepada Pemuda Hijrah tentang aktivitas dan kreativitasnya, sehingga ini adalah modal harmonisasi antara pengurus  masjid dengan generasi muda.